Kuliah Kerja Kelompok 45

Foto bersama Bapak Kepala desa Gadding

LPI Bustanul Fawaid

Yayasan yang terletak di daerah Dusun Somangkaan.

Sungai Batu Ampar

Pesona alam sungai batu ampar, menyejukkan mata yang memandang

Kesenian Budaya "Hadrah"

Kesenian budaya yang masih dilestarikan sampai saat ini

Tradisi Jaranan

Tradisi turun menurun masyarakat desa Gadding

Wednesday, August 10, 2016

Tradisi Turun Menurun Masyarakat Desa Gadding "Jaranan"

      Setiap daerah pasti  memiliki tradisi yang berbeda-beda. Begitu pula yang terjadi di Desa Gadding Kecamatan Manding Kabupaten Sumenep. Di desa ini dan mungkin di desa lain kabupaten Sumenep memiliki tradisi yang cukup unik. Tradisi ini dinamakan "Jaranan". Di wilayah ini, santri yang mengaji di Mushalla setempat, ketika sudah dinyatakan sudah khatam, maka diadakan tasyakuran Khatmil Qur'an.
       Menariknya, bentuk tasyakuran yang dilakukan adalah dengan cara dibacakan shalawat Nabi sambil diiringi dengan musik rebana (Hadrah). Sedangkan anak yang Khatam Qur'an, didandani layaknya pengantin baru dan duduk di atas kuda sambil mengelilingi kampung. Kudanya pun juga dihias agar terlihat cantik, bergoyang mengikuti alunan musik rebana dan melakukan atraksi "berdiri" dihadapan para penonton. 
       Tradisi tersebut sudah berlangsung secara turun-temurun sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT karena anak sudah bisa membaca Kitab Suci Al-Quran. Selain untuk tasyakuran khatmil qur'an, jaranan biasanya diadakan ketika selametan khitanan.


Pesona Alam Sungai "Batu Ampar"

      Seperti yang  sudah  diceritakan sebelumnya, Desa Gadding kecamatan Manding, tempat kami mengabdi selama satu bulan, berbagi rasa, berbagi suka dan duka dengan masyarakat disana, tidak ada satu patah kata pun yang menggambarkan kejenuhan kami berada disana setelah kami perlahan mengenali suasana desa, memahami karakter penduduknya dan menikmati setiap keindahan tersembunyi yang tidak pernah tereksplor oleh masyarakat luar. Desa Gadding yang lokasinya berada cukup jauh dari kota dan hingar bingar keramaian kota, menempuh setiap jengkal perjalanan menuju desa itu pun butuh perjuangan dan kesabaran luar biasa, karena akses menuju Desa ini  dapat dikatakan masih sangat buruk karena  jalan yang kami tempuh tidak semulus jalanan kota, penerangan jalan pun hampir sama sekali tidak ada.
Aliran Deras Sungai Batu Ampar
Bebatuan yang menghampar


       Namun, dibalik semua kekurangan Desa yang lokasinya didaerah pegunungan ini, ada beberapa tempat memukau yang kami temui, salah satunya adalah sungai “Batu Ampar”. Sungai ini terletak di Dusun Somangkaan.  Kenapa disebut dengan Batu ampar? Menurut keterangan salah satu warga, batu ampar adalah batu yang menghampar disepanjang tepi sungai.  Mungkin terdengar biasa, tapi bagi kami ini cukup memukau. Sungai yang aliran airnya tidak begitu deras dengan tepi-tepi sungainya yang dipenuhi batu-batu tipis yang menghampar, sangat menyenangkan apabila kita duduk di hamparan batu sambil menikmati keindahan alamnya. Tidak jarang kami temui warga Desa Gadding yang memanfaatkan sungai tersebut untuk mencuci, mandi, bahkan tempat bermain anak-anak sambil salto kedalam air. Namun sangat disayangkan, tempat ini tidak terjamah oleh masyarakat luas.
Akses jalan menuju sungai batu ampar

       Ya, Desa Gadding yang terpencil, jauh dari keramaian kota, dengan masyarakat yang sangat ramah dan setiap sudut desa yang pemandangannya membuat hati tidak bisa berpaling. Kami hampir tidak pernah merasakan kejenuhan selama berada disana, 26 hari berbaur dengan penduduk Desa Gadding hampir membuat kami lupa dengan rumah.

Bukit Gadding Menyimpan Cerita

       Bukit gadding merupakan bukit tertinggi yang berada di Dusun Gadding, Dusun Somangkaan. Orang-orang sekitar percaya bahwa di bukit tersebut banyak tempat makhluk halus dan jin bertempat tinggal.
       Pada zaman dahulu pernah ada seorang warga yang sedang mencari kayu dan menemukan buah-buahan yang berada disekitarnya dengan seketika. Ketika ia berfikir lama untuk mengambilnya, buah tersebut hilang. Cerita lain, pernah ada salah satu murid yang berkemah di bukit tersebut hilang dibawa oleh para jin. Disana murid tersebut melihat banyak buah dan taman yang indah tempat para jin tersebut tinggal.
        Konon diyakini puncak bukit tersebut merupakan tempat bertapa untuk merubah hidup menjadi lebih baik. Seperti ingin mencari kekayaan, kepandaian dan derajat. Dibawah bukit itu pula terdapat makam seorang pendiri desa Gadding yang bernama "H. Mahmud Arbaiyah".  Cerita ini berdasarkan juru kunci Bukit Gadding "Muhammad Djalal".
Bukit Gadding dari kejauhan

Situs Sejarah "Bhujuk Pacenan" Wisata Religi

      Salah satu situs bersejarah yang ada di desa Gadding yaitu sebuah asta yang terletak di dusun Teramok. Biasanya warga desa menyebutnya "Bhujuk Pacenan". Asal usul Bhujuk Pacenan belum secara akurat diketahui oleh masyarakat, karena belum ada sumber pasti yang mampu menjelaskan sejarah dari asta tersebut. Informasi perihal Bhujuk hanya mereka ketahui berdasarkan cerita dari para ayah atau kakek mereka yang sekarang ini kebanyakan sudah meninggal dunia. 
       Berdasarkan cerita dari masyarakat, terdapat seekor ular yang menunggui Bhujuk Pacenan. Bhujuk ini juga dikenal sebagai pusat kota jin dan terdapat pula jembatan yang menghubungan bukit satu dengan bukit yang lainya. Perhatian masyarakat terhadap bhujuk masih kurang, sehingga kondisi Bhujuk Pacenan terlihat sangat tidak terawat. Bhujuk Pacenan sering dikunjungi masyakarat sekitar ketika mereka memiliki hajat tertentu. Karena mereka percaya bahwa Bhujuk Pacenan dapat memberikan berkah bagi mereka. 
Add caption


"Bhujuk Moncela" Situs Sejarah lain di Desa Gadding

     Situs bersejarah lain yang ada di desa Gadding yaitu "Bhujuk Moncela" yang terletak di puncak gunung di dusun Jenggere Timur. Menurut juru kunci dari gunung Masa’an, makam tersebut pindahan dari Desa Larangan. Makam ini ditemukan pada tahun 1975 oleh bapak dari juru kunci Gunung Masa’an. 
Bhujuk Moncela
      Awal mula makam ini ditemukan karena setiap malam jum’at manis terdapat cahaya yang datang ke makam tersebut kemudian bapak itu mendatanginya. Pada awalnya makam tersebut hanyalah satu kemudian selang satu minggu makam tersebut menjadi dua. Makam yang pertama itu bernama Siti Aminah kemudian yang ke dua bernama  H. Ahmad. Hal ini diketahui kebenarannya setelah bapak dari kunci selama 10 hari  bertapa di gunung tersebut. Hingga saat ini masyarakat masih mensakralkan makam tersebut serta digunakan untuk tempat bertapa.  

Foto bersama juru kunci Bhujuk Moncela


Kesenian Budaya Yang Masih Dilestarikan "Hadrah"

     Salah satu Kesenian Budaya yang sampai ini tetap dilaksanakan di desa Gadding yaitu Hadrah. Kesenian Hadrah ini dilakukan dengan sistem arisan, Warga yang mendapat arisan Hadrah di rumahnya akan mengadakan kesenian Hadrah. Untuk dusun Barunah, setiap minggu malam senin diadakan arisan hadrah di rumah warga yang berbeda. penarikan uang arisan tidak tentu tergantung warga yang mengadakan arisan kadang Rp 20.000, Rp 50.000, atau seikhlasnya. Pelatih dari kesenian hadrah yaitu bapak Admawi yang juga sebagai tokoh masyarakat di Dusun Barunah. 
Tradisi Hadrah di Dusun Barunah yang masih dilestarikan


Sate Tahunya Desa Gadding

     Jika berkunjung ke suatu tempat, tidak sah rasanya jika belum mencicipi makanan khas daerah tersebut. Seperti halnya di desa Gadding ini. Biasanya jika berbicara  tentang sate, yang ada dalam benak kita pasti ayam atau kambing. Namun,  ketika kami berkunjung ke salah satu rumah warga, kami dihidangkan "Sate Tahu". sate tahu ini terbuat dari pentol tahu yang ditusuk dengan tusukan sate kemudian diberi bumbu kacang. Sate tahu ini dijual dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu Rp. 1000/Tusuk. Rasanya tidak kalah dengan sate ayam dan kambing :D